Laporan Hasi KKL Cangar - Batu ,Malang
LAPORAN PRAKTIKUM
TAKSONOMI TUMBUHAN RENDAH
TAMAN HUTAN RAYA R.SOERYO
CANGAR-BATU-MALANG
|
|
|
|
|
|
Dosen Pembimbing :
Drs. Sulisetjono,
M.si
Ainun Nikmati Laily,
M.si
Oleh :
Kelompok
4
Nur Roqi Dunyana A. (13620092)
Nurullah A.N (13620105)
Malinda F I (13620122)
M.
Bintang (13620098)
Achmad. Munajib (13620125)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia
adalah negara yang kaya akan keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati yang
ada di Indonesia meliputi hewan dan tumbuhan yang bernacam-macam
jenisnya.Tumbuhan di dunia ini sangat beragam. Terdapat tumbuhan yang sudah
memiliki akar batang dan daun yang sudah dapat dibedakan dengan jelas atau yang
disebut Cormophyta , tetapi ada pula yang akar, batang , dan daunnya masih
belum dapat dibedakan atau disebut thallophyta. Tumbuhan berkormus meliputi
beberapa jenis tumbuhan tingkat tinggi, sedangkan tumbuhan berthallus meliputi
alga, lumut dan lumut kerak.
Tumbuhan Lumut (Bryophyta) merupakan
tumbuhan yang relatif kecil, tubuhnya hanya beberapa milimeter saja, lumut
hidup pada tempat-tempat yang lembab, sedangkan lichenes atau lumut kerak sering
disebut sebagai tumbuhan perintis.Lichenes hidup sebagai epifit pada
pohon-pohonan tetapi dapat juga di atas tanah.Jamur merupakan tumbuhan yang
tidak mempunyai klorofil sehingga disebut heterotrof.Jamur ada yang uniseluler
dan multi seluler, selain itu jamur ada yang beracun tetapi ada pula yang
memiliki gizi yang tinggi.
Ketiga
organisme tersebut secara umum dapat disebut sebagai organisme bertalus. Di
Indonesia potensi akan tumbuhnya berbagai jenis tumbuhan tersebut dapat di
temukan pada beberapa daerah yang memiliki kelembaban yang baik. Habitat dari
ketiga jenis organisme tersebut dapat ditemukan dalam satu tempat yang memang
memiliki potensi sebagai tempat hidup yang memberikannya nutrisi dan pemenuhan
unsur-unsur yang dibutuhkan.Salah satunya adalah di hutan wisata Cangar yang
terletak di kabupaten Malang.Identifikasi secara benar sangat berguna untuk
mengetahui kelebihan dan kerugian dalam pemanfaatannya pada kehidupan.
1.1
Rumusan Masalah
Rumusan masalah
dari studi lapangan ini adalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana
morfologi spesies
lichen, lumut (bryophyta), dan jamur (fungi) yang berhabitat di kawasan Taman
Hutan Raya (Tahura) R. Soeryo Cangar Batu Malang?
2. Bagaimana sistem reproduksi spesies
lichen, lumut (bryophyta), dan jamur (fungi) yang berhabitat di kawasan Taman
Hutan Raya (Tahura) R. Soeryo Cangar Batu Malang ?
1.2 Tujuan
Tujuan dari dilaksanakannya studi
lapangan ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk
menetahui morfologi spesies
lichen, lumut (bryophyta), dan jamur (fungi) yang berhabitat di kawasan Taman
Hutan Raya (Tahura) R. Soeryo Cangar Batu Malang?
2. Untuk mengetahui sistem reproduksi
spesies lichen, lumut (bryophyta), dan jamur (fungi) yang berhabitat di kawasan
Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soeryo Cangar Batu Malang ?
1.3
Manfaat
Hasil dari studi lapangan ini
diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Menambah informasi dan ilmu
pengetahuan tentang lichen, lumut (bryophyta), dan jamur (fungi).
2. Dapat mengetahui secara langsung
tentang morfologi lichen, lumut (bryophyta), dan jamur (fungi).
3. Sebagai bahan studi lanjut (bahan
ajar) untuk pembelajaran mata kuliah Botani Thumbuhan Tidak Berpembuluh
mengenai lichen, lumut (bryophyta), dan jamur (fungi)
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Fungi
(jamur) merupakan kelompok organisme eukariotik yang membentuk dunia jamur atau
regnum. Fungi umumnya multiseluler (bersel banyak). Ciri – ciri jamur
berbeda dengan organisme lainnya dalam hal cara makan, struktur tubuh,
pertumbuhan dan reproduksinya. Struktur tubuh jamur tergantung pada
jenisnya.Tubuh jamur tersusun atas komponen dasar yang disebut hifa.Hifa
merupakan pembentuk jaringan yang disebut miselium.Miselum yang menyusun
jalinan-jalinan semua menjadi tubuh.Bentuk hifa menyerupai benang yang tersusun
dari dinding berbentuk pipa.Dinding ini menyelubungi membran plasma dan
sitoplasma.Kebanyakan hifa dibatasi oleh dinding melintang atau septa. Septa
umumnya mempunyai pori besar yang cukup untuk dilewati ribosom, mitokondria dan
kadangkala inti sel yang mengalir dari sel ke sel. Akan tetapi adapula hifa
yang tidak bersepta atau hifa sinostik. Struktur hifa sinostik dihasilkan oleh
pembelahan inti sel berkali-kali yang tidak diikuti dengan pembelahan
sitoplasma (Izmiulfa, 2012).
Lumut
daun terdiri atas lebih kurang 12.000 jenis dan tersiar kemana mana.lumut itu
dapat tumbuh di atas tanah-tanah yang gundul yang periodic mengalami masa
kekeringan, bahkan di atas pasing yang bergerak pun tumbuhan ini dapat hidup.
Selain itu lumut dapat pula kita temukan di antara rumput-rumput, di atas
cadas, pada batang-batang dan cabang-cabang, bahkan ada yang ada pada daun-daun
pohon-pohonan, di rawa-rawa, tetapi jarang dalam air.Mengingat tempat
tumbuhnnya yang bermacam-macam itu, maka tak mengherankan jika tubuhnya
menunjukkan struktur yang bermacam-macam pula (Kimball, 1987).
Tumbuhan
lumut mempunyai daur hidup yang terdiri atas generasi sporofit (generasi yang
menghasilkan spora) dan generasi gametofit (generasi yang menghasilkan gamet).
Generasi gametofit tumbuhan lumut memiliki ukuran yang lebih besar sehingga
dapat di amati dengan mata telanjang. Perlu dikatahui juga bahwa generasi
gametofit (haploid) erupakan generasi dominan pada tumbuhan lumut. Sporofit
umumnya lebih kecil dan daur hidupnya lebih singkat. Generasi
gametofit : pembentukan gamet (tumbuhan lumut-
arkegonium+anteridium-ovum+sperma-zigot). Generasi sporofit: pembentukan spora
yaitu: sporogonium-spora–protonema (Prowel, 2010).
Lumut daun terdiri atas lebih
kurang 12.000 jenis dan tersiar kemana mana.lumut itu dapat tumbuh di
atas tanah-tanah yang gundul yang periodic mengalami masa kekeringan,
bahkan di atas pasing yang bergerak pun tumbuhan ini dapat hidup. Selain itu
lumut dapat pula kita temukan di antara rumput-rumput, di atas cadas, pada
batang-batang dan cabang-cabang, bahkan ada yang ada pada daun-daun
pohon-pohonan, di rawa-rawa, tetapi jarang dalam air.Mengingat tempat
tumbuhnnya yang bermacam-macam itu, maka tak mengherankan jika tubuhnya
menunjukkan struktur yang bermacam-macam pula.
Istilah jamur atau fungi selau
dikaitkan dengan suatu penyakit.Karena memang masih kurang difahami masyarakat
luas.Fungi ada yang menguntungkan, ada pula yang merugikan.Fungi berperan
penting dalam kehidupan kita sehari-hari.Karena mampu mendaur ulang unsur-unsur
di alam yang diperlukan untuk hidup lainnya (Gandjar, 1999).
Peran fungi dalam kehidupan kita
sehari-hari antara lain dapat disebutkan dibidang pertanian dan perkebunan
menyebabkan penyakit pada tanaman ekonomi seperti padi, jagung, kentang, kopi,
the, coklat, kelapa dan karet; di bidang kehutanan merusak kayu dan hasil
olahannya, akan tetapi fungi justru diperlukan dalam penguburan lahan, di
bidang farmasi fungi dimanfaatkan untuk menghasilkan aneka enzim dan senyawa
asam organik tertentu, di bidang kedokteran sejumlah fungi memang phatogen bagi
mannusia antara lain menyebabkan alergi dan dermatomikosis, di bidang kesehatan
masyarakat spora fungi dii udara menyebabkan pengotoran udara yang bila dihirup
menyebabkan batuk-batuk dan alergi disamping itu diketahui pula bahwa fungi
dapat merusak lingkungan, cat minyak bumi, kertas, dan tekstil (Gandjar,1999).
Fungi adalah mikroorganisme tidak
berklorofil, berbentuk hifa atau sel tunggal, eukariotik, berdinding sel dari
kitin atau selulosa, bereproduksi seksual dan aseksual dalam dunia kehidupan
fungi merupakan kingdom tersendiri, karena cara mendapatkan makanannya berbeda
dari organisme eukariotik lainnya yaitu melalui absorbsi (Gandjar, 1999).
Sebagian besar tubuh fungi terdiri
atas benang-benang yang disebut hifa yang saling berhubungan berjalin semacam
jala, yaitu miselium. Miselum dapat dibedakan atas miselium vegetatif yang
berfungsi menyerap nutrien dari lingkungan dan miselium fertil yang
berfungsi dalam reproduksi (Gandjar, 1999).
Fungi dapat ditemukan pada aneka
substrat, baik dilingkungan darat, perairan maupun udara.Tidaklah sulit
menemukan fungi di alam, karena bagian vegetatifnya yang umumnya berupa
miselium berwarna putih dan mudah terlihat pada substrat yang
membusuk.Konidianya atau tubuh buahnya dapat mempunyai warna (merah, hitam,
jingga, kuning, kream, putih, abu-abu, coklat, kebiru-biruan dan sebagainya).
Pada daun, batang kertas, tekstil, kulit dan lain lain. Tubuh buah fungi lebih
mencolok karena dapat langsung diilihat dengan mata kasat, sedangkan miselium
vegetatif yang menyerap makanan hanya dapat dilhat menggunakan
mikroskop(Gandjar, 1999)
Fungi tingkat tinggi maupun tingkat
rendah mempunyai ciri yang khas, yakni berupa benang tunggal atau yang
bercabang-cabang yang disebut dengan hifa. Fungi merupakan organisme eukariotik
yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut
1.
Mempunyai spoora
2.
Memproduksi spora
3.
Tidak mempunyai klorofil sehingga tidak berfotosintesis
4.
Dapat berkembang biak secara seksual dan aseksual
5.
Tubuh berfilamen dan dinding sel mengandung kitin, glukan, selulosa dan manan
(Waluyo, 2007)
Fungi dibedakan menjadi dua golongan
yakni: kapang dan khamir. Kapang merupakan fungi yang berfilamen atau mempunyai
miselium.Sedangkan khamir merupakan fungi bersel tunggal dan tidak berfilamen.
Fungi merupakan organisme menyerupai tanaman, tetapi mempunyai beberapa
perbedaan, yakni:
a) Tidak mempunyai klorofil
b) Mempunyai dinding sel dengan
kompossi berbeda
c) Berkembang biak dengan spora
d) Tidak mempunyai cabang, batang, akar
dan daun
e) Tidak mempunyai sistem vaskuler
seperti pada tanaman
Bersifat multiseluler tidak
mempunyai pembagian fungsi masing-masing bagian seperti pada tanaman.
Fungi ada yang bersifat parasit dan
ada pula bersifat saprofit.Parasit apabila dalam memenuhi kebutuhan makanannya
dengan mengambil dari benda hidup yang ditumpanginya.Sedangkan bersifat
saprofit apabila memperoleh makanan dari benda mati dan tidak merugikan benda
itu sendiri. Fungi mensintesis protein dengan mengambil sumber karbon dan
karbohodrat (misalnya glukosa, sukrosa atau maltosa)., sumber nitrogen dari
bahan organik atau anorganik, dan mineral dari substratnya . ada juga beberapa
fungi yang dapat mensintesis vitamin-vitamin yang dibutuhkan untuk pertumbuhan
dan perkembangbiakan sendiri. Tetapi ada juga yang tidak dapat mensintesis
sendiri, sehingga harus mendapatkan dari substrat, misalkan thaimin dan biotin
(Waluyo,2007).
Fungi multiseluler atau kapang
mempunyai miselia atau fillamen dan pertumbuhannya dalam bahan makanan mudah
sekali dilihat, yakni seperti kapas. Pertumbuhan fungi mula-mula berwarna
putih, tetapi bila telah memproduksi apora maka akan terbentuk berbagi warna
tergantung dari jenis kapang. Sifat-sifat yang penampakan mikroskopik
ataupun makroskopik digunakan untuk identifikasi dan klasifikasi kapang
(Waluyo, 2007).
Kapang dapat dibedakan menjadi dua
kelompok berdasarkan struktur hifa, yaitu hifa tidak bersekat atau
nonseptat dan hifa bersekat atau septat yang membagi hifa dalam mangan-mangan,
dimana setiap mangan mempunyai inti satu atau lebih. Dinding penyekat pada
kapang disebut dengan septum yang tidak tertutup rapat sehingga sitoplasma
masih dapat bebas bergerak dari satu ruang ke ruang lainnya.Kapang bersepta
yaitu terutama kelas Ascomycetes.Sedangkan kapang tak bersepta yakni kelas
Phycomycetes.Kapang yang tak bersepta intinya tersebar disepanjang septa
(Waluyo, 2007).
Baik jamur yang bersahaja maupun
jamur yang tingkat tinggi tubuhnya mempunyai ciri yang khas, yaitu berupa
benang tunggal bercabang-cabang yang disebut miselium.Atau berupa kumpulan
benang-benang yang dapat menjadi satu.Hanya golongan ragi itu tubuhnya berupa
sel-sel tunggal.Ciri kedua ialah jamur tidak mempunyai klorofil, sehingga
hidupnya terpaksa heterotrof. Sifat ini menguatkan pendapat bahwa jamur itu
merupakan kelanjutan bakteri di dalam evolusi (Dwidjoseputro, 1994)
Golongan jamur mencangkup lebih
daripada 55000 spesies, jumlah ini jauh lebih banyak dari spesies
bakteri.Tentang klasifikasinya belum ada kesatuan pendapat yang menyeluruh dari
para sarjana taksononi.Bakteri dan jamur merupakan golongan tumbuh-tumbuhan
yang tubuhnya tidak mempunyai diferensiasi.Oleh karena itu disebut tumbuhan
talus (thallophyta) lengkapnya thallopyta yang tidak berklorofil
(Dwidjoseputro, 1994).
Beberapa fungi, meskipun sapiofitik
dapat juga menyerbu inang yang hidup lalu tumbuh dengan subur disitu sebagai
parasit.Sebagai parasit mereka menimbulkan penyakit pada tumbuhan dan hewan,
termasuk manusia.Akan tetapi diantara sekitar 500.000 spesies cendawan, hanya
kurang lebih 100 yang patogenik terhadap manusia.kematian infeksi oleh cendawan
selain penyakit kulit sangat tinggi. Hal ini boleh jadi disebabkan oleh
diagnosis yang terlambat atau yang salah selama penyakit itu menjalar atau
karena tidak tersediannya antibiotik.Antibiotik non toksik yang secara medis
tepat guna.Banayak cendawan patogenik, misalnya HistoplasmaCapsulatum, yang
menyebabkan histoplasmosis (nfeksi mikosis pada sistem retikolendotelium yang
meliputi banyak organ). Dapat juga hidup sebagai saprofit, fungsi deperti itu
menunjukan dimorfisme : artinya mereka dapat ada dalam bentuk uniseluler
seperti halnya khamir ataupun dalam bentuk bening (filamen) seperti halnya
kapang. Fase khamir timbul bilamana organisme itu hidup sebagai parasit atau
patogen dalam jaringan, sedangkan bentuk kapang bila organisme itu merupakan
saprofit dalam tanah atau dalam medium laboratorium.Identifikasi laboratorium
untuk cendawan – cendawan patogenik acapkali tergantung kepada dapat tidaknya
dimorfisme ini dipertunjukan (Pelczar. 2006).
Cendawan dapat bertahan dalam
keadaan alam sekitar yang tidak menguntukan dibandingkan dengan jasad – jasad
renik lainnya lebih kurang mampu.Sebagai contoh, khamir dan kapang dapat tumbuh
dalam suatu substrat atau medium berisikan konsentrasi gula yang dapat
menghambat kebanyakan bakteri. Demikian pula, kapang dan khamir umumnya dapat
bertahan terhadap keadaan yang lebih asam dari pada kebanyakan mikroba yang
lain(Pelczar. 2006)
Usnea sp
adalah salah satu dari spesies lichen, lichen merupakan gabungan antara fungi
dan alga sehingga secara morfologi dan fisiologi merupakan satu
kesatuan.Tumbuhan ini epifit pada pohon-pohon, di atas tanah, terutama di
daerah sekitar kutub utara, di atas batu cadas, di tepi pantai, atau
gunung-gunung yang tinggi. Tumbuhan ini mempunyai warna yang bervariasi seperti
putih, hijau keabu-abuan,kuning, orange, cokelat, hitam, dan merah (Melati,
2012)
Beberapa marga dari Usnea memiliki
banyak kegunaan, diantaranya sebagai anti bakteri, anti jamur (Protousnea
poeppigii dan Usnea florida), sebagai
antioksidan (Usenea articulate dan Usnea antartica), anti
protozoa (Usnea poeppigii dan Usnea floirida), analgesic dan
antipiretik (Usnea diffrakta). Hal ni karena adanya kadungan asam usnat
pada marga Usnea (Septiana, 2011)
Lumut merupakan tumbuhan peralihan
antara tumbuhan bertalus (thallophyta) dan tumbuhan berkomus (karmophyita).
Lumut dapat beradapatasi untu tumbuh di tanah, belum mempunyai jaringan
pengangkut dan sudah memiliki dinding sel yang tersusun atas jaringan selulosa (
Bender dan Kumar, 2005)
Marchantia
polymorpha ini dapat ditemukan di tempat dengan berbagai
iklim, terutama di tempat lembab dan ternaungi. Morfologi Marchantia dapat
berubah karena perubahan intensitas cahaya (Mache dan Loiseaux, 1973)
Pada umumnya pertumbuhan fungi
dipengaruhi oleh faktor subtrat, kelembapan, suhu, derajat keasaman (pH) dan
senyawa-senyawa kimia dilingkungannya. Subtrat merupakan sumber nutrien utama bagi fungi. Kelembapan merupakan factor
yang sangat penting untuk pertumbuhan fungi. Suhu juga mempengaruhi pertumbuhan
fungi, sedangkan untuk pH sendiri jamur kayu tumbuh pada pH dibawah 7,0. Untuk
bahan kimia sering digunakan untuk mencegah pertumbuhan fungi, misalnya
natriumbenzinat kedalam bahan pangan sebagai pengawet karena tidak bersifat
toksik untuk manusia(Syamsuridzal dan Giandjar, 2006)
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1Waktu
Dan Tempat
Praktikum tentang pengamatan jamur, lichen dan lumut ini
dilakukan pada hari minggu tanggal 10 november 2014 mulai jam 10:00-14:00 di
Taman Hutan Raya R Soeryo ,Pemandian Air Panas Cangar, Batu, Malang, Jawa Timur
3.2
Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini
yaitu:
1. Penggaris 1 buah
2. Kamera 1 buah
3.Buku
identifikasi 1 buah
3.2.1 Bahan
Bahan yang digunakan untuk praktikum ini adalah lumut,
lichen, an jamur yang ada di Taman Hutan Raya R Soeryo
,Pemandian Air Panas Cangar, Batu, Malang, Jawa Timur
3.3
Cara kerja
Langkah kerja pada praktikum ini yaitu:
1. Disiapkan alat
praktikum
2. Dicari bahan
praktikum lichen, lumut, dan jamur pada sekeliling taman hutan raya
3. DI amati bahan yang
telah ditemukan
4. Diukur dengan
penggaris dan di foto
5. Dilakukan langkah
1-4 pada bahan-bahan selanjutnya
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1
Usnea sp.
4.1.1
Gambar
|
Gambar
Pengamatan
|
Gambar
Literatur
|
![]() |
![]()
(Diana, 2010)
|
Keterangan:
1.
Subtrat
2.
Talus
Klasifikasi: (Misra, 1978)
Kerajaan: Plantae
Divisi:
Lichenophyta
Kelas:
Ascolichens
Ordo:
Lecanorales
Famili:
Usneaceae
Genus:
Usnea
Spesies:
Usnea sp.
4.1.2
Pembahasan
Usnea
sp
adalah salah satu dari spesies lichen, lichen merupakan gabungan antara fungi
dan alga sehingga secara morfologi dan fisiologi merupakan satu
kesatuan.Tumbuhan ini epifit pada pohon-pohon, di atas tanah, terutama di
daerah sekitar kutub utara, di atas batu cadas, di tepi pantai, atau
gunung-gunung yang tinggi. Tumbuhan ini mempunyai warna yang bervariasi seperti
putih, hijau keabu-abuan,kuning, orange, cokelat, hitam, dan merah (Melati,
2012)
Usnea
sp. merupakan bentuk dari fructikosa (mirip semak), sama seperti fructikosa
lainnya, lichen ini tumbuh bergantung paada suatu subtrat kayu (epifit).
Bentuknya silindris tipis berwarna kuning pucat serupa benang yang
bercabang.Cabang utama memiliki diameter kira-kira 1 milimeter.Semakin ke
ujung, cabangnya semain tipis. Lichen ini tumbuh bergantung dan
cabang-cabangnya menjuntai (berjumbai). Karena termasuk golongan Ascolichen,
maka penyusunnya berasal dari golongan Ascomycota.Di Cangar Usnea ini banyak
ditemukan, bahkan hampir disetiap jalan ada usnean, meskipun variasinya
berbeda.
Usnea
sp.
terdiri dari bagian subtract dan talus. Subtrat merupakan tempat melekatnya
spesies.Subtrat berupa kayu yang sedikit lapuk. Tekstur lichen ini cukup lunak.
Percabangannya tidak dapat ditentukan karena cabangnya sangat banyak. Lichen
ini menurut literature kemungkinan merupakan golongan marga Usnea.
Usnea berkembang
biak secara seksual dan aseksual. Reproduksi secara aseksual dengan fragmentasi
badan vegetative yang disebut talus atau dengan suatu struktur yang disebut
soredia. Reproduksi secara seksual dengan cara bersimbiosi dengan Ascomycota
dan Basidiomycota menghasilkan akspora atau basidiospora.
Menurut Septiana
(2011) menyatakan bahwa beberapa marga dari Usnea memiliki banyak
kegunaan, diantaranya sebagai anti bakteri, anti jamur (Protousnea poeppigii
dan Usnea florida), sebagai
antioksidan (Usenea articulate dan Usnea antartica), anti
protozoa (Usnea poeppigii dan Usnea floirida), analgesic dan
antipiretik (Usnea diffrakta). Hal ni karena adanya kadungan asam usnat
pada marga Usnea.
4.2 Marchantia polymorpha
4.2.1
Gambar
|
Gambar Pengamatan
|
Gambar Literatur
|
![]() ![]() |
(Zarfia,2010)
|
Keterangan:
1.
Kuncup (gemma) 5.
Arkegonifor
2. Talus 6.
Anteridium
3. Bintik
putih 7.
Anteridiofor
4.
Arkegonium 8.
Rhizoid
Klasifikasi: (Misra, 1978)
Kerajaan: Plantae
Divisi:
Hepaticophyta
Kelas:
Marchantiopsida
Ordo:
Marchantiales
Famili:
Marchanticeae
Genus:
Marchantia
Spesies:
Marchantia polymorpha
4.2.2
Pembahasan
Marchantia
polymorpha merupakan spesies dari lumut divisi
Hepaticopsida.Lumut merupakan tumbuhan talus yang hidup di zona amphibious,
yaitu daerah yang lembab, basah, tepi pantai, dan pegunungan. Lumut dibagi
menjadi tiga, yaitu lumut daun( Bryopsida), lumut hati( hapticopsida), dan
lumut tanduk (Anthoterocopsida) dikelompokkan bersama dalam satu divisi
tunggal. Marchantia polymorpha ini memiliki bagian diantaranya adalah
gemma, talus, arkegonium, arkegoniofor, anteridium, anteridofor, dan rhizoid.
Marchantia
polymorpha atau lumut hati merupakan anggota dari
hapatophyta.Bentuknya seperti lembaran daun yang melebar dan bertoreh dua di ujung.Tebalnya
sekitar 1 mm. Pemukaan talusnya licin dan halus serta mengilap, berwarna
hijau.Pada talus terdapat bintik-bintik putih diseluruh permukaan talusnya.Pada
ujung talus terdapat bagian berupa mangkok yang disebut gemma atau kuncup.
Kuncup ini berisi spora yang akan menjelma menjadi lumut baru jika jatuh
ditempt yang sesuai. Lumut Marchantia polymorpha melekat pada subtract
tanah dengan menggunakan rhizoid atau bagian yang berfungsi sebagai akar.
Lumut merupakan
tumbuhan peralihan antara tumbuhan bertalus (thallophyta) dan tumbuhan berkomus
(karmophyita). Lumut dapat beradapatasi untu tumbuh di tanah, belum mempunyai
jaringan pengangkut dan sudah memiliki dinding sel yang tersusun atas jaringan
selulosa ( Bender dan Kumar, 2005)
Marchantia
polymorpha ini dapat ditemukan di tempat dengan berbagai
iklim, terutama di tempat lembab dan ternaungi.Morfologi Marchantia dapat
berubah karena perubahan intensitas cahaya (Mache dan Loiseaux, 1973).Marchantia
polymorpha memiliki struktur seperti daun yang menutupi permukaan tanah,
disebut juga talus. Lu,ut x`hati bukan tumbuhan berpembuluh tapi, tapi lebih
primitive dan mirip lumut daun dan juga tidak memiliki daun yang sesungguhnya. M.
polymorpha bereproduksi dengan spora , dapat juga bereproduksi aseksual
dengan
4.3
Jamur Kayu (Ganoderma applanata)
|
Gambar Pengamatan
|
Gambar Literatur
|
![]() |
![]()
(Ratu,2009)
|
Klasifikasi:
Kerajaan: Plantae
Kelas:
Homobasidiomycetes
Ordo:
Hymenomycetales
Famili:
Polyporaceae
Genus:
Ganoderma
Spesies:
Ganoderma applanatum
4.3.2
Pembahasan
Jamur kayu
merupakan organisme tingkat rendah yang belum mempunyai akar, batang, dan daun
sehingga disebut dengan tumbuhan tallus.Jamur kayu terdiri dari satu sel
(uniseluler) dan ber sel banyak (multiseluler).Selnya sendiri berbentuk hifa
(benang). Hifa akan bercabang membentuk bangunan seperti anyaman yang disebut
miselium. Tubuh multiseluler terdiri dari hifa yang bersekat.Hidup terrestrial
saprofit, parasit atau membentuk mikorhiza.Tubuh buah disebut basidiokarp yaitu
tempat terbentuknya basidium dan basidium terbentuk spora basidium.
Biokarp tersusun
atas basidium-basidium yang didalamnya berisi spora (basidiaspora). Basidium
ada yang terdiri atas satu sel dan ada yang bersekat-sekat terbagi menjadi 4
bagian sel. Jamur kayu mempunyai sel yang bersifat eukariotik, tidak mempunyai
klorofil, sebagai parasit atau saprofit.
Jamur kayu hidup
di daerah yang lembab dan tidak menyukai adanya cahaya.Di cangar, jamur kayu
ditemukan di dataran menengah keatas, karena permukaan tanah yang lembab. Cara
reproduksi jamur kayu adalah dengan cara
seksual dan aseksual. Seksual dengan cara membentuk spora pada basidium,
sedangkan aseksual dengan cara fragmentasi.
Menurut Syamsuridzal dan Giandjar (2006) menyatakan
bahwa pada umumnya pertumbuhan fungi dipengaruhi oleh faktor subtrat,
kelembapan, suhu, derajat keasaman (pH) dan senyawa-senyawa kimia
dilingkungannya. Subtrat merupakan sumber nutrien utama bagi fungi. Kelembapan merupakan factor
yang sangat penting untuk pertumbuhan fungi. Suhu juga mempengaruhi pertumbuhan
fungi, sedangkan untuk pH sendiri jamur kayu tumbuh pada pH dibawah 7,0. Untuk
bahan kimia sering digunakan untuk mencegah pertumbuhan fungi, misalnya
natriumbenzinat kedalam bahan pangan sebagai pengawet karena tidak bersifat
toksik untuk manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Kimball, John W. 1987. Biologi Edisi Kelima Jilid 3.
Jakarta : Erlangga.
Sianipar, Prowel. 2010. Biologi. Yogyakarta: PUSTAKA
BOOK PUBLISHER
Yani,
Izmiulfa, 2012. Tumbuhan Lumut. http://biologid.blogspot.com/2012/02/
tumbuhan-lumut-bryophyta.html (17
Januari 2013)
Tjitrosoepomo
Gembong. Taksonomi Tumbuhan Rendah, Yogyakarta: Gajah
Mada University Press. 1989
Dwidjoseputro,
D.1994. Dasar – Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan
Gandjar,
Indrawati.1999. Pengenalan Kapang Tropik Umum. Jakarta : UI Press
Pelczar,
Micheal. 2006. Dasar – Dasar Mikrobiologi. Jakarta : UI Press
Waluyo,
Lud.2007. Mikrobiologi Umum. Malang : UMM Press






