Rabu, 19 November 2014

Laporan Hasi KKL Cangar - Batu ,Malang



LAPORAN PRAKTIKUM
TAKSONOMI TUMBUHAN RENDAH
TAMAN HUTAN RAYA R.SOERYO CANGAR-BATU-MALANG





Dosen Pembimbing :
Drs. Sulisetjono, M.si
Ainun Nikmati Laily, M.si

Oleh :
Kelompok 4
Nur Roqi Dunyana A.             (13620092)
Nurullah A.N                          (13620105)
            Malinda F I                              (13620122)
            M. Bintang                                (13620098)
                                                Achmad. Munajib                      (13620125)

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2014










BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Indonesia adalah negara yang kaya akan keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia meliputi hewan dan tumbuhan yang bernacam-macam jenisnya.Tumbuhan di dunia ini sangat beragam. Terdapat tumbuhan yang sudah memiliki akar batang dan daun yang sudah dapat dibedakan dengan jelas atau yang disebut Cormophyta , tetapi ada pula yang akar, batang , dan daunnya masih belum dapat dibedakan atau disebut thallophyta. Tumbuhan berkormus meliputi beberapa jenis tumbuhan tingkat tinggi, sedangkan tumbuhan berthallus meliputi alga, lumut dan lumut kerak.
Tumbuhan Lumut (Bryophyta) merupakan tumbuhan yang relatif kecil, tubuhnya hanya beberapa milimeter saja, lumut hidup pada tempat-tempat yang lembab, sedangkan lichenes atau lumut kerak sering disebut sebagai tumbuhan perintis.Lichenes hidup sebagai epifit pada pohon-pohonan tetapi dapat juga di atas tanah.Jamur merupakan tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil sehingga disebut heterotrof.Jamur ada yang uniseluler dan multi seluler, selain itu jamur ada yang beracun tetapi ada pula yang memiliki gizi yang tinggi.
Ketiga organisme tersebut secara umum dapat disebut sebagai organisme bertalus. Di Indonesia potensi akan tumbuhnya berbagai jenis tumbuhan tersebut dapat di temukan pada beberapa daerah yang memiliki kelembaban yang baik. Habitat dari ketiga jenis organisme tersebut dapat ditemukan dalam satu tempat yang memang memiliki potensi sebagai tempat hidup yang memberikannya nutrisi dan pemenuhan unsur-unsur yang dibutuhkan.Salah satunya adalah di hutan wisata Cangar yang terletak di kabupaten Malang.Identifikasi secara benar sangat berguna untuk mengetahui kelebihan dan kerugian dalam pemanfaatannya pada kehidupan.

1.1   Rumusan Masalah
            Rumusan masalah dari studi lapangan ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana morfologi spesies lichen, lumut (bryophyta), dan jamur (fungi) yang berhabitat di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soeryo Cangar Batu Malang?
2.      Bagaimana sistem reproduksi spesies lichen, lumut (bryophyta), dan jamur (fungi) yang berhabitat di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soeryo Cangar Batu Malang ?


1.2 Tujuan
Tujuan dari dilaksanakannya studi lapangan ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk menetahui morfologi spesies lichen, lumut (bryophyta), dan jamur (fungi) yang berhabitat di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soeryo Cangar Batu Malang?
2.      Untuk mengetahui sistem reproduksi spesies lichen, lumut (bryophyta), dan jamur (fungi) yang berhabitat di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soeryo Cangar Batu Malang ?

1.3    Manfaat
Hasil dari studi lapangan ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1.      Menambah informasi dan ilmu pengetahuan tentang lichen, lumut (bryophyta), dan jamur (fungi).
2.      Dapat mengetahui secara langsung tentang morfologi lichen, lumut (bryophyta), dan jamur (fungi).
3.      Sebagai bahan studi lanjut (bahan ajar) untuk pembelajaran mata kuliah Botani Thumbuhan Tidak Berpembuluh mengenai lichen, lumut (bryophyta), dan jamur (fungi)
















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Fungi (jamur) merupakan kelompok organisme eukariotik yang membentuk dunia jamur atau regnum. Fungi umumnya  multiseluler (bersel banyak). Ciri – ciri jamur berbeda dengan organisme lainnya dalam hal cara makan, struktur tubuh, pertumbuhan dan reproduksinya. Struktur tubuh jamur tergantung pada jenisnya.Tubuh jamur tersusun atas komponen dasar yang disebut hifa.Hifa merupakan pembentuk jaringan yang disebut miselium.Miselum yang menyusun jalinan-jalinan semua menjadi tubuh.Bentuk hifa menyerupai benang yang tersusun dari dinding berbentuk pipa.Dinding ini menyelubungi membran plasma dan sitoplasma.Kebanyakan hifa dibatasi oleh dinding melintang atau septa. Septa umumnya mempunyai pori besar yang cukup untuk dilewati ribosom, mitokondria dan kadangkala inti sel yang mengalir dari sel ke sel. Akan tetapi adapula hifa yang tidak bersepta atau hifa sinostik. Struktur hifa sinostik dihasilkan oleh pembelahan inti sel berkali-kali yang tidak diikuti dengan pembelahan sitoplasma (Izmiulfa, 2012).
Lumut daun terdiri atas lebih kurang 12.000 jenis dan tersiar kemana mana.lumut itu dapat tumbuh di atas  tanah-tanah yang gundul yang periodic mengalami masa kekeringan, bahkan di atas pasing yang bergerak pun tumbuhan ini dapat hidup. Selain itu lumut dapat pula kita temukan di antara rumput-rumput, di atas cadas, pada batang-batang dan cabang-cabang, bahkan ada yang ada pada daun-daun pohon-pohonan, di rawa-rawa, tetapi jarang dalam air.Mengingat tempat tumbuhnnya yang bermacam-macam itu, maka tak mengherankan jika tubuhnya menunjukkan struktur yang bermacam-macam pula (Kimball, 1987).
Tumbuhan lumut mempunyai daur hidup yang terdiri atas generasi sporofit (generasi yang menghasilkan spora) dan generasi gametofit (generasi yang menghasilkan gamet). Generasi gametofit tumbuhan lumut memiliki ukuran yang lebih besar sehingga dapat di amati dengan mata telanjang.  Perlu dikatahui juga bahwa generasi gametofit (haploid) erupakan generasi dominan pada tumbuhan lumut. Sporofit umumnya lebih kecil dan daur hidupnya lebih  singkat. Generasi gametofit : pembentukan gamet (tumbuhan lumut- arkegonium+anteridium-ovum+sperma-zigot). Generasi sporofit: pembentukan spora yaitu: sporogonium-spora–protonema (Prowel, 2010).
Lumut daun terdiri atas lebih kurang 12.000 jenis dan tersiar kemana mana.lumut itu dapat tumbuh di atas  tanah-tanah yang gundul yang periodic mengalami masa kekeringan, bahkan di atas pasing yang bergerak pun tumbuhan ini dapat hidup. Selain itu lumut dapat pula kita temukan di antara rumput-rumput, di atas cadas, pada batang-batang dan cabang-cabang, bahkan ada yang ada pada daun-daun pohon-pohonan, di rawa-rawa, tetapi jarang dalam air.Mengingat tempat tumbuhnnya yang bermacam-macam itu, maka tak mengherankan jika tubuhnya menunjukkan struktur yang bermacam-macam pula.
Istilah jamur atau fungi selau dikaitkan dengan suatu penyakit.Karena memang masih kurang difahami masyarakat luas.Fungi ada yang menguntungkan, ada pula yang merugikan.Fungi berperan penting dalam kehidupan kita sehari-hari.Karena mampu mendaur ulang unsur-unsur di alam yang diperlukan untuk hidup lainnya (Gandjar, 1999).
Peran fungi dalam kehidupan kita sehari-hari antara lain dapat disebutkan dibidang pertanian dan perkebunan menyebabkan penyakit pada tanaman ekonomi seperti padi, jagung, kentang, kopi, the, coklat, kelapa dan karet; di bidang kehutanan merusak kayu dan hasil olahannya, akan tetapi fungi justru diperlukan dalam penguburan lahan, di bidang farmasi fungi dimanfaatkan untuk menghasilkan aneka enzim dan senyawa asam organik tertentu, di bidang kedokteran sejumlah fungi memang phatogen bagi mannusia antara lain menyebabkan alergi dan dermatomikosis, di bidang kesehatan masyarakat spora fungi dii udara menyebabkan pengotoran udara yang bila dihirup menyebabkan batuk-batuk dan alergi disamping itu diketahui pula bahwa fungi dapat merusak lingkungan, cat minyak bumi, kertas, dan tekstil (Gandjar,1999).
Fungi adalah mikroorganisme tidak berklorofil, berbentuk hifa atau sel tunggal, eukariotik, berdinding sel dari kitin atau selulosa, bereproduksi seksual dan aseksual dalam dunia kehidupan fungi merupakan kingdom tersendiri, karena cara mendapatkan makanannya berbeda dari  organisme eukariotik lainnya yaitu melalui absorbsi (Gandjar, 1999).
Sebagian besar tubuh fungi terdiri atas benang-benang yang disebut hifa yang saling berhubungan berjalin semacam jala, yaitu miselium. Miselum dapat dibedakan atas miselium vegetatif yang berfungsi menyerap nutrien dari lingkungan dan miselium fertil yang berfungsi  dalam reproduksi (Gandjar, 1999).
Fungi dapat ditemukan pada aneka substrat, baik dilingkungan darat, perairan maupun udara.Tidaklah sulit menemukan fungi di alam, karena bagian vegetatifnya yang umumnya berupa miselium berwarna putih dan mudah terlihat pada substrat yang membusuk.Konidianya atau tubuh buahnya dapat mempunyai warna (merah, hitam, jingga, kuning, kream, putih, abu-abu, coklat, kebiru-biruan dan sebagainya). Pada daun, batang kertas, tekstil, kulit dan lain lain. Tubuh buah fungi lebih mencolok karena dapat langsung diilihat dengan mata kasat, sedangkan miselium vegetatif yang menyerap makanan hanya dapat dilhat menggunakan mikroskop(Gandjar, 1999)
Fungi tingkat tinggi maupun tingkat rendah mempunyai ciri yang khas, yakni berupa benang tunggal atau yang bercabang-cabang yang disebut dengan hifa. Fungi merupakan organisme eukariotik yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut
1.      Mempunyai spoora
2.      Memproduksi spora
3.      Tidak mempunyai klorofil sehingga tidak berfotosintesis
4.      Dapat berkembang biak secara seksual dan aseksual
5.      Tubuh berfilamen dan dinding sel mengandung kitin, glukan, selulosa dan manan (Waluyo, 2007)
Fungi dibedakan menjadi dua golongan yakni: kapang dan khamir. Kapang merupakan fungi yang berfilamen atau mempunyai miselium.Sedangkan khamir merupakan fungi bersel tunggal dan tidak berfilamen. Fungi merupakan organisme menyerupai tanaman, tetapi mempunyai beberapa perbedaan, yakni:
a)      Tidak mempunyai klorofil
b)      Mempunyai dinding sel dengan kompossi berbeda
c)      Berkembang biak dengan spora
d)     Tidak mempunyai cabang, batang, akar dan daun
e)      Tidak mempunyai sistem vaskuler seperti pada tanaman
    Bersifat multiseluler tidak mempunyai pembagian fungsi masing-masing bagian seperti pada tanaman.
Fungi ada yang bersifat parasit dan ada pula bersifat saprofit.Parasit apabila dalam memenuhi kebutuhan makanannya dengan mengambil dari benda hidup yang ditumpanginya.Sedangkan bersifat saprofit apabila memperoleh makanan dari benda mati dan tidak merugikan benda itu sendiri. Fungi mensintesis protein dengan mengambil sumber karbon dan karbohodrat (misalnya glukosa, sukrosa atau maltosa)., sumber nitrogen dari bahan organik atau anorganik, dan mineral dari substratnya . ada juga beberapa fungi yang dapat mensintesis vitamin-vitamin yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan sendiri. Tetapi ada juga yang tidak dapat mensintesis sendiri, sehingga harus mendapatkan dari substrat, misalkan thaimin dan biotin (Waluyo,2007).
Fungi multiseluler atau kapang mempunyai miselia atau fillamen dan pertumbuhannya dalam bahan makanan mudah sekali dilihat, yakni seperti kapas. Pertumbuhan fungi mula-mula berwarna putih, tetapi bila telah memproduksi apora maka akan terbentuk berbagi warna tergantung dari jenis kapang. Sifat-sifat yang penampakan mikroskopik  ataupun makroskopik digunakan untuk identifikasi dan klasifikasi kapang (Waluyo, 2007).
Kapang dapat dibedakan menjadi dua kelompok berdasarkan  struktur hifa, yaitu hifa tidak bersekat atau nonseptat dan hifa bersekat atau septat yang membagi hifa dalam mangan-mangan, dimana setiap mangan mempunyai inti satu atau lebih. Dinding penyekat pada kapang disebut dengan septum yang tidak tertutup rapat sehingga sitoplasma masih dapat bebas bergerak dari satu ruang ke ruang lainnya.Kapang bersepta yaitu terutama kelas Ascomycetes.Sedangkan kapang tak bersepta yakni kelas Phycomycetes.Kapang yang tak bersepta intinya tersebar disepanjang septa (Waluyo, 2007).
Baik jamur yang bersahaja maupun jamur yang tingkat tinggi tubuhnya mempunyai ciri yang khas, yaitu berupa benang tunggal bercabang-cabang yang disebut miselium.Atau berupa kumpulan benang-benang yang dapat menjadi satu.Hanya golongan ragi itu tubuhnya berupa sel-sel tunggal.Ciri kedua ialah jamur tidak mempunyai klorofil, sehingga hidupnya terpaksa heterotrof. Sifat ini menguatkan pendapat bahwa jamur itu merupakan kelanjutan bakteri di dalam evolusi (Dwidjoseputro, 1994)
Golongan jamur mencangkup lebih daripada 55000 spesies, jumlah ini jauh lebih banyak dari spesies bakteri.Tentang klasifikasinya belum ada kesatuan pendapat yang menyeluruh dari para sarjana taksononi.Bakteri dan jamur merupakan golongan tumbuh-tumbuhan yang tubuhnya tidak mempunyai diferensiasi.Oleh karena itu disebut tumbuhan talus (thallophyta) lengkapnya thallopyta yang tidak berklorofil (Dwidjoseputro, 1994).
Beberapa fungi, meskipun sapiofitik dapat juga menyerbu inang yang hidup lalu tumbuh dengan subur disitu sebagai parasit.Sebagai parasit mereka menimbulkan penyakit pada tumbuhan dan hewan, termasuk manusia.Akan tetapi diantara sekitar 500.000 spesies cendawan, hanya kurang lebih 100 yang patogenik terhadap manusia.kematian infeksi oleh cendawan selain penyakit kulit sangat tinggi. Hal ini boleh jadi disebabkan oleh diagnosis yang terlambat atau yang salah selama penyakit itu menjalar atau karena tidak tersediannya antibiotik.Antibiotik non toksik yang secara medis tepat guna.Banayak cendawan patogenik, misalnya HistoplasmaCapsulatum, yang menyebabkan histoplasmosis (nfeksi mikosis pada sistem retikolendotelium yang meliputi banyak organ). Dapat juga hidup sebagai saprofit, fungsi deperti itu menunjukan dimorfisme : artinya mereka dapat ada dalam bentuk uniseluler seperti halnya khamir ataupun dalam bentuk bening (filamen) seperti halnya kapang. Fase khamir timbul bilamana organisme itu hidup sebagai parasit atau patogen dalam jaringan, sedangkan bentuk kapang bila organisme itu merupakan saprofit dalam tanah atau dalam medium laboratorium.Identifikasi laboratorium untuk cendawan – cendawan patogenik acapkali tergantung kepada dapat tidaknya dimorfisme ini dipertunjukan (Pelczar. 2006).
Cendawan dapat bertahan dalam keadaan alam sekitar yang tidak menguntukan dibandingkan dengan jasad – jasad renik lainnya lebih kurang mampu.Sebagai contoh, khamir dan kapang dapat tumbuh dalam suatu substrat atau medium berisikan konsentrasi gula yang dapat menghambat kebanyakan bakteri. Demikian pula, kapang dan khamir umumnya dapat bertahan terhadap keadaan yang lebih asam dari pada kebanyakan mikroba yang lain(Pelczar. 2006)
Usnea sp adalah salah satu dari spesies lichen, lichen merupakan gabungan antara fungi dan alga sehingga secara morfologi dan fisiologi merupakan satu kesatuan.Tumbuhan ini epifit pada pohon-pohon, di atas tanah, terutama di daerah sekitar kutub utara, di atas batu cadas, di tepi pantai, atau gunung-gunung yang tinggi. Tumbuhan ini mempunyai warna yang bervariasi seperti putih, hijau keabu-abuan,kuning, orange, cokelat, hitam, dan merah (Melati, 2012)
Beberapa marga dari Usnea memiliki banyak kegunaan, diantaranya sebagai anti bakteri, anti jamur (Protousnea poeppigii dan  Usnea florida), sebagai antioksidan (Usenea articulate dan Usnea antartica), anti protozoa (Usnea poeppigii dan Usnea floirida), analgesic dan antipiretik (Usnea diffrakta). Hal ni karena adanya kadungan asam usnat pada marga Usnea (Septiana, 2011)
Lumut merupakan tumbuhan peralihan antara tumbuhan bertalus (thallophyta) dan tumbuhan berkomus (karmophyita). Lumut dapat beradapatasi untu tumbuh di tanah, belum mempunyai jaringan pengangkut dan sudah memiliki dinding sel yang tersusun atas jaringan selulosa ( Bender dan Kumar, 2005)
Marchantia polymorpha ini dapat ditemukan di tempat dengan berbagai iklim, terutama di tempat lembab dan ternaungi. Morfologi Marchantia dapat berubah karena perubahan intensitas cahaya (Mache dan Loiseaux, 1973)
Pada umumnya pertumbuhan fungi dipengaruhi oleh faktor subtrat, kelembapan, suhu, derajat keasaman (pH) dan senyawa-senyawa kimia dilingkungannya. Subtrat merupakan sumber nutrien  utama bagi fungi. Kelembapan merupakan factor yang sangat penting untuk pertumbuhan fungi. Suhu juga mempengaruhi pertumbuhan fungi, sedangkan untuk pH sendiri jamur kayu tumbuh pada pH dibawah 7,0. Untuk bahan kimia sering digunakan untuk mencegah pertumbuhan fungi, misalnya natriumbenzinat kedalam bahan pangan sebagai pengawet karena tidak bersifat toksik untuk manusia(Syamsuridzal dan Giandjar, 2006)


BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1Waktu Dan Tempat
            Praktikum tentang pengamatan jamur, lichen dan lumut ini dilakukan pada hari minggu tanggal 10 november 2014 mulai jam 10:00-14:00 di Taman Hutan Raya R Soeryo ,Pemandian Air Panas Cangar, Batu, Malang, Jawa Timur
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu:
1. Penggaris                   1 buah                                                                                                                               
2. Kamera                      1 buah                                                                                                                              
3.Buku identifikasi       1 buah                                                                                                                   
3.2.1 Bahan
Bahan yang digunakan untuk praktikum ini adalah lumut, lichen, an jamur yang ada di Taman Hutan Raya R Soeryo ,Pemandian Air Panas Cangar, Batu, Malang, Jawa Timur

3.3 Cara kerja
            Langkah kerja pada praktikum ini yaitu:
1. Disiapkan alat praktikum
2. Dicari bahan praktikum lichen, lumut, dan jamur pada sekeliling taman hutan raya
3. DI amati bahan yang telah ditemukan
4. Diukur dengan penggaris dan di foto
5. Dilakukan langkah 1-4 pada bahan-bahan selanjutnya

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Usnea sp.
4.1.1 Gambar
Gambar Pengamatan
Gambar Literatur






(Diana, 2010)

Keterangan:
1.    Subtrat
2.    Talus
Klasifikasi: (Misra, 1978)
Kerajaan: Plantae
            Divisi: Lichenophyta
                        Kelas: Ascolichens
                                    Ordo: Lecanorales
                                                Famili: Usneaceae
                                                            Genus: Usnea
                                                                        Spesies: Usnea sp.

4.1.2 Pembahasan
Usnea sp adalah salah satu dari spesies lichen, lichen merupakan gabungan antara fungi dan alga sehingga secara morfologi dan fisiologi merupakan satu kesatuan.Tumbuhan ini epifit pada pohon-pohon, di atas tanah, terutama di daerah sekitar kutub utara, di atas batu cadas, di tepi pantai, atau gunung-gunung yang tinggi. Tumbuhan ini mempunyai warna yang bervariasi seperti putih, hijau keabu-abuan,kuning, orange, cokelat, hitam, dan merah (Melati, 2012)
Usnea sp. merupakan bentuk dari fructikosa (mirip semak), sama seperti fructikosa lainnya, lichen ini tumbuh bergantung paada suatu subtrat kayu (epifit). Bentuknya silindris tipis berwarna kuning pucat serupa benang yang bercabang.Cabang utama memiliki diameter kira-kira 1 milimeter.Semakin ke ujung, cabangnya semain tipis. Lichen ini tumbuh bergantung dan cabang-cabangnya menjuntai (berjumbai). Karena termasuk golongan Ascolichen, maka penyusunnya berasal dari golongan Ascomycota.Di Cangar Usnea ini banyak ditemukan, bahkan hampir disetiap jalan ada usnean, meskipun variasinya berbeda.
Usnea sp. terdiri dari bagian subtract dan talus. Subtrat merupakan tempat melekatnya spesies.Subtrat berupa kayu yang sedikit lapuk. Tekstur lichen ini cukup lunak. Percabangannya tidak dapat ditentukan karena cabangnya sangat banyak. Lichen ini menurut literature kemungkinan merupakan golongan marga Usnea.
Usnea berkembang biak secara seksual dan aseksual. Reproduksi secara aseksual dengan fragmentasi badan vegetative yang disebut talus atau dengan suatu struktur yang disebut soredia. Reproduksi secara seksual dengan cara bersimbiosi dengan Ascomycota dan Basidiomycota menghasilkan akspora atau basidiospora.
Menurut Septiana (2011) menyatakan bahwa beberapa marga dari Usnea memiliki banyak kegunaan, diantaranya sebagai anti bakteri, anti jamur (Protousnea poeppigii dan  Usnea florida), sebagai antioksidan (Usenea articulate dan Usnea antartica), anti protozoa (Usnea poeppigii dan Usnea floirida), analgesic dan antipiretik (Usnea diffrakta). Hal ni karena adanya kadungan asam usnat pada marga Usnea.

4.2   Marchantia polymorpha
4.2.1 Gambar
Gambar Pengamatan
Gambar Literatur







(Zarfia,2010)

Keterangan:
1.      Kuncup (gemma)                                         5. Arkegonifor
2.      Talus                                                            6. Anteridium
3.      Bintik putih                                                 7. Anteridiofor
4.      Arkegonium                                                 8. Rhizoid
Klasifikasi: (Misra, 1978)
Kerajaan: Plantae
                        Divisi: Hepaticophyta
                                    Kelas: Marchantiopsida
                                                Ordo: Marchantiales
                                                            Famili: Marchanticeae
                                                                        Genus: Marchantia
                                                                                    Spesies: Marchantia polymorpha
4.2.2 Pembahasan
Marchantia polymorpha merupakan spesies dari lumut divisi Hepaticopsida.Lumut merupakan tumbuhan talus yang hidup di zona amphibious, yaitu daerah yang lembab, basah, tepi pantai, dan pegunungan. Lumut dibagi menjadi tiga, yaitu lumut daun( Bryopsida), lumut hati( hapticopsida), dan lumut tanduk (Anthoterocopsida) dikelompokkan bersama dalam satu divisi tunggal. Marchantia polymorpha ini memiliki bagian diantaranya adalah gemma, talus, arkegonium, arkegoniofor, anteridium, anteridofor, dan rhizoid.
Marchantia polymorpha atau lumut hati merupakan anggota dari hapatophyta.Bentuknya seperti lembaran daun yang melebar dan bertoreh dua di ujung.Tebalnya sekitar 1 mm. Pemukaan talusnya licin dan halus serta mengilap, berwarna hijau.Pada talus terdapat bintik-bintik putih diseluruh permukaan talusnya.Pada ujung talus terdapat bagian berupa mangkok yang disebut gemma atau kuncup. Kuncup ini berisi spora yang akan menjelma menjadi lumut baru jika jatuh ditempt yang sesuai. Lumut Marchantia polymorpha melekat pada subtract tanah dengan menggunakan rhizoid atau bagian yang berfungsi sebagai akar.
Lumut merupakan tumbuhan peralihan antara tumbuhan bertalus (thallophyta) dan tumbuhan berkomus (karmophyita). Lumut dapat beradapatasi untu tumbuh di tanah, belum mempunyai jaringan pengangkut dan sudah memiliki dinding sel yang tersusun atas jaringan selulosa ( Bender dan Kumar, 2005)
Marchantia polymorpha ini dapat ditemukan di tempat dengan berbagai iklim, terutama di tempat lembab dan ternaungi.Morfologi Marchantia dapat berubah karena perubahan intensitas cahaya (Mache dan Loiseaux, 1973).Marchantia polymorpha memiliki struktur seperti daun yang menutupi permukaan tanah, disebut juga talus. Lu,ut x`hati bukan tumbuhan berpembuluh tapi, tapi lebih primitive dan mirip lumut daun dan juga tidak memiliki daun yang sesungguhnya. M. polymorpha bereproduksi dengan spora , dapat juga bereproduksi aseksual dengan







4.3 Jamur Kayu (Ganoderma applanata)
4.3.1 Gambar
Gambar Pengamatan
Gambar Literatur






(Ratu,2009)

Klasifikasi:
Kerajaan: Plantae
            Kelas: Homobasidiomycetes
                        Ordo: Hymenomycetales
                                    Famili: Polyporaceae
                                                Genus: Ganoderma
                                                            Spesies: Ganoderma applanatum
4.3.2 Pembahasan
Jamur kayu merupakan organisme tingkat rendah yang belum mempunyai akar, batang, dan daun sehingga disebut dengan tumbuhan tallus.Jamur kayu terdiri dari satu sel (uniseluler) dan ber sel banyak (multiseluler).Selnya sendiri berbentuk hifa (benang). Hifa akan bercabang membentuk bangunan seperti anyaman yang disebut miselium. Tubuh multiseluler terdiri dari hifa yang bersekat.Hidup terrestrial saprofit, parasit atau membentuk mikorhiza.Tubuh buah disebut basidiokarp yaitu tempat terbentuknya basidium dan basidium terbentuk spora basidium.
Biokarp tersusun atas basidium-basidium yang didalamnya berisi spora (basidiaspora). Basidium ada yang terdiri atas satu sel dan ada yang bersekat-sekat terbagi menjadi 4 bagian sel. Jamur kayu mempunyai sel yang bersifat eukariotik, tidak mempunyai klorofil, sebagai parasit atau saprofit.
Jamur kayu hidup di daerah yang lembab dan tidak menyukai adanya cahaya.Di cangar, jamur kayu ditemukan di dataran menengah keatas, karena permukaan tanah yang lembab. Cara reproduksi  jamur kayu adalah dengan cara seksual dan aseksual. Seksual dengan cara membentuk spora pada basidium, sedangkan aseksual dengan cara fragmentasi.
Menurut  Syamsuridzal dan Giandjar (2006) menyatakan bahwa pada umumnya pertumbuhan fungi dipengaruhi oleh faktor subtrat, kelembapan, suhu, derajat keasaman (pH) dan senyawa-senyawa kimia dilingkungannya. Subtrat merupakan sumber nutrien  utama bagi fungi. Kelembapan merupakan factor yang sangat penting untuk pertumbuhan fungi. Suhu juga mempengaruhi pertumbuhan fungi, sedangkan untuk pH sendiri jamur kayu tumbuh pada pH dibawah 7,0. Untuk bahan kimia sering digunakan untuk mencegah pertumbuhan fungi, misalnya natriumbenzinat kedalam bahan pangan sebagai pengawet karena tidak bersifat toksik untuk manusia.










DAFTAR PUSTAKA

Kimball,  John W. 1987. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta : Erlangga.
Sianipar, Prowel. 2010. Biologi. Yogyakarta: PUSTAKA BOOK PUBLISHER
Yani, Izmiulfa, 2012. Tumbuhan Lumut. http://biologid.blogspot.com/2012/02/
tumbuhan-lumut-bryophyta.html (17 Januari 2013)
Tjitrosoepomo Gembong. Taksonomi Tumbuhan Rendah, Yogyakarta: Gajah
Mada University Press. 1989
Dwidjoseputro, D.1994. Dasar – Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan
Gandjar, Indrawati.1999. Pengenalan Kapang Tropik Umum. Jakarta : UI Press
Pelczar, Micheal. 2006. Dasar – Dasar Mikrobiologi. Jakarta : UI Press
Waluyo, Lud.2007. Mikrobiologi Umum. Malang : UMM Press